Suka duka kuliah online
College

Suka Duka Kuliah Online di Tengah Covid-19

Tanggal 18 Maret 2020 silam menjadi awal mula kuliah online yang saya jalani saat ini. Banyak cerita suka duka yang saya rasakan selama kuliah online dari rumah.

Sebelum Kuliah Online

Semuanya dimulai pada tanggal 2 Maret 2020 ketika berita mengenai kasus pertama Covid-19 beredar di jagat maya. Saat itu saya sedang duduk anteng mendengarkan kuliah dosen, catet sana catet sini di buku tulis bak mahasiswi grade A super rajin (Eh, emang rajin kan? Iya nggak sih? wkwk).

Lalu perhatian saya teralihkan oleh temen-temen yang nggak bisa berhenti grasak-grusuk dari meja mereka. Aduh, nggak kepingin kepo sebenernya. Cuma, saya mulai curiga karena tumben-tumbennya mereka ngobrol di tengah kuliah, tanpa saya lagi. huh! Ghibah? Ya kali. Nggak mungkin ah. Akhirnya saya tanya mereka.

Jeng jeng! Ternyata, mereka lagi ngomongin kasus Corona di Indonesia.

Buru-buru saya cek smartphone dan buka aplikasi LINE (yah, nggak jadi mahasiswi grade A super rajin deh). Bener aja, headline news yang masuk ke HP saya terkait kasus pertama dan kedua Corona di Tanah Air.

Setelah itu saya bengong. Nggak tahu harus memproses berita itu seperti apa. Kaget? Iya. Biasa aja? Juga iya. Dosennya ngomongin apa? Saya nggak paham sebenernya heheh. Eh, tenang abis itu belajar lagi kok di rumah wkwk.

Pokoknya berminggu-minggu kemudian saya makin rajin bawa bekel dari rumah karena nggak mau jajan sembarangan. Saya dan temen-temen juga jadi rajin bolak-balik cuci tangan ke toilet. Terus banyak banget mahasiswa yang baru masuk area kampus langsung pergi ke toilet buat cuci tangan, termasuk saya.  Untungnya toilet kampus kami selalu nyediain sabun, jadi nggak parno-parno banget deh sama virus.

Nah, mulai tanggal 12 Maret, kalau nggak salah, beredar kabar kalau universitas saya mau mengubah metode kuliah Face to Face menjadi kelas Self Learning selama seminggu.

Hmm, gimana ya… The majority of students in my college always think that self-learning class is a holiday. I mean, it’s not our mistake because everyone also calls it an off-class. Like a day off of college? Although in fact, we always get an assignment in every self-learning class. Ok, maybe we’re that dumb after all. Menggiurkan, libur satu minggu pikir saya.

Di hari Minggu kampus saya mengumumkan metode kuliah online ini akan berjalan selama satu semester penuh. Pengumuman resmi pake surat rektor! Wah, ini sih seneng banget. Karena saya sendiri takut kalau harus ada di kampus di tengah pandemi. Saya nggak ngerasa nyaman beraktivitas di sana.

Eh ternyata kuliah online nggak seindah yang saya bayangin. Kuliah online bikin mahasiswa sakit kepala. Ini bukan asal ngomong saya doang. Banyak anak jurusan lain dan teman-teman yang curhat begitu juga.

Suka dan Duka Menjalani Kuliah Online

1. Banjir Tugas

Saya langsung dibanjiri tugas di minggu pertama. I didn’t expect that at all. Padahal kalau lihat pattern kampus yang selalu kasih segudang tugas di minggu pertama term baru, harusnya saya sudah tahu apa yang akan saya hadapi. Tapi, saya juga nggak inget polanya.

Minggu pertama belajar di rumah bikin saya gerah. Ini daftar tugas yang saya catat selama satu minggu.

Suka duka kuliah online
2. Bobot Tugas yang Mengerikan

Beberapa tugas yang kami dapat di awal kuliah nggak nanggung-nanggung. Rasanya mustahil buat dikerjakan selama seminggu karena kami juga punya tugas yang sama berbobotnya di setiap mata kuliah. Tapi, Alhamdulillah, saya bisa lewati minggu pertama kuliah walaupun ada satu tugas yang telat saya kumpulkan.

3. No Video Conference

Satu bulan pertama perkuliahan saya lalui tanpa video conference sama sekali. Semua tugas yang saya kumpulkan di website kampus dihitung sebagai absen. Jadi kalau saya nggak nyerahin tugas sama aja saya nggak masuk kelas.

Untungnya, kampus saya mulai menerapkan sistem tatap muka melalui video conference setelah UTS. Sekarang tugas saya nggak sebanyak dua bulan yang lalu.

4. Kangen Teman-Teman

Semester ini seharusnya jadi semester terakhir angkatan kami belajar bersama. Semester depan, kami dijadwalkan keluar dari lingkungan kampus untuk magang selama empat bulan. Lalu di semester terakhir kami akan menyusun skripsi.

Tapi, karena Corona, saya dan temen-temen jadi terpisah lebih awal. Jangan salah, saya tetep kompak loh sama temen-temen haha. Kelewat kompak, malah. Yah, semoga di semester depan bisa ketemu lagi. Satu bimbingan skripsi, mungkin (InsyaAllah kalau saya berminat ambil fast track sambil magang).

5. Akhirnya Bisa Atur Waktu Belajar

Setelah merasakan UTS yang lebih gila dibanding tugas-tugas sebelumnya, saya mulai bisa atur waktu untuk mengerjakan tugas. Saya juga jadi sadar kalau tugas yang diberikan di kampus nggak ada apa-apanya dibanding UTS (Most of my exams are projects and essays).

Antara tiga kemungkinan ya: Sayanya yang lebih siap belajar dibanding sebelumnya, Tugasnya yang jadi lebih sedikit karena mulai vicon, atau karena sudah bisa atur waktu dan beradaptasi.

Baca juga: 6 Hal yang Gue Lakukan Setelah Ujian Online Selesai

6. Ternyata Pulang Pergi Kampus-Rumah itu Indah

Satu hal yang bikin saya kangen kuliah adalah perjalanan pulang pergi bolak-balik dari rumah ke kampus. Biasanya saya pergi subuh-subuh dan pulang setelah maghrib untuk menghindari kemacetan. Sekarang saya bisa lanjut tidur setelah sholat subuh.

Sejujurnya saya bersyukur banget sama kuliah yang sekarang ini, jadi saya bisa lebih fokus ngerjain tugas. Cuma, saya lumayan rindu sama suasana jalanan kota yang hiruk pikuk dan juga momen-momen nunggu maghrib sambil ngerjain tugas di reading room.

7. Kalau Penat Belajar, Ya Istirahat atau Olahraga.

Ini nih. Kalau kepala lagi pusing mikirin tugas yang nambah terus setiap harinya, atau lagi bosen ngerjain tugas, opsinya cuma istirahat kalau nggak olahraga. Soalnya, selama masih ada Corona kan kita nggak boleh jalan kemana-mana.

Olahraga bagus banget buat mencegah stress. Sedangkan, istirahat maksudnya lebih ke ngerjain sesuatu yang berkaitan dengan hobi saya.

Hikmah yang Saya Dapatkan

Kuliah dari rumah nggak selamanya buruk asalkan dari awal mindset-nya bener (kuliah online itu kuliah, bukan libur hahaha), pinter ngatur waktu, dan tahu kewajiban.

Sebenernya juga online class nggak akan terasa buruk kalau kita bisa pergi jalan-jalan ke pameran, mall, atau public places lainnya. Tapi, kan kita tahu tujuan belajar dari rumah itu untuk apa.

Situasi saat ini nggak memungkinkan kita untuk jalan-jalan. Please, kalian yang baca ini juga jangan jalan-jalan dulu ya. Duduk diem di rumah aja sampai situasi kembali normal.

Selanjutnya, dari suka duka yang saya alami selama kuliah online saya lebih menghargai hal-hal kecil yang saya lakukan sewaktu Covid-19 belum menyebar di Indonesia. Bahwa ternyata hari Senin pagi jadi kesempatan baru untuk mencapai cita-cita, macetnya kota Jakarta menjadi objek cuci mata favorit setelah pulang kuliah, dan masih banyak lagi.

Saya juga belajar dari keluhan yang nggak sengaja saya lontarkan di awal perkuliahan, bahwa sebenarnya saya bisa melalui semua ini. Saya juga sadar bahwa kendala yang saya hadapi berasal dari dalam diri saya, bukan dari keterbatasan media. Artinya saya harus bersyukur lebih banyak lagi. Apalagi kalau dipikir-pikir kuliah yang saya jalani cukup mudah untuk dipelajari sendiri. Saya nggak bisa bayangin kalau saya masih sekolah dan harus mempelajari matematika, fisika, dan kimia secara otodidak dari rumah. Hii, ngeriii.

Kalau suka duka kalian selama kuliah online apa sih, temen-temen? Share cerita kalian di kolom komentar di bawah ini ya!

Subscribe to Kalopsia Cloud

Jangan lupa subscribe blog ini ya! Kalian bisa daftarin email kalian di kolom subscription yang ada di post ini atau di samping kanan-atas blog. Selanjutnya, kalian tinggal cek email konfirmasi dari Kalopsia Cloud dan klik “confirm follow“. Nantinya kalian akan mendapat email notifikasi setiap kali saya publish blog post baru. Terima kasih, temen-temen.